
1) Segmen Aceh, D = 1,07 ± 0,02
2) Segmen Alas, D = 1,19 ± 0,03
3) Segmen Toru, D = 1,07 ± 0,03
4) Segmen Asik, D = 1,06 ± 0,01
5) Segmen Singkarak, D = 1,00 ± 0,03
6) Segmen Muaralaboh, D = 1,15 ± 0,01
7) Segmen Kerinci, D = 1,01 ± 0,02
8) Segmen Seblat, D = 1,01 ± 0,02
9) Segmen Kepahiang, D = 1,02 ± 0,03
10) Segmen Ranau, D = 1,21 ± 0,03
11) Segmen Semangko, D = 1,24 ± 0,03
Ke 11 segmen SSS tersebut terletak pada dua blok kerak seismogenik dengan sifat fisik yang berbeda. Segmen dengan D = 1,00-1,15 terletak pada blok dengan densitas 2,75 gr/cm3 dan litologi utama granitik. Segmen dengan D = 1,19 -1,24 terletak pada blok dengan densitas 2,90 gr/cm3 dan litologi utama ofiolit. Terdapat pola teratur yang disebut sebagai pola fraktal kegempaan SSS, yang menghubungkan waktu dan lokasi terjadinya gempa besar dangkal disepanjang ke 11 segmen tersebut dengan dimensi fraktal setiap segmen. Berdasarkan pola fraktal tersebut dan sifat kerak seismogenik sepanjang SSS, maka ke 11 segmen sesar Sumatra dapat dikelompokkan menjadi 2 blok atau 3 sub blok segmen, yakni :
a. Blok I dengan litologi utama granitik, D = 1,00 - 1,15 (D = 1,05), p = 2,75 gr/cm3, K = 2,19 dan A t = 6 tahun. Blok ini terdiri atas 2 sub blok, yaitu :
i) Blok la dengan litologi utama granitik, D=1,00-1,02 (D = 1,01), p = 2,75 gr/cm3, K = 1,96 dan A t = 5 tahun.
ii) Blok lb dengan litologi utama granitik, D=1,06-1,15 (D = 1,075), p = 2,75 gr/cm3, K= 2,41 dan A t= 7 tahun.
b. Blok II dengan litologi utama ofiolit, D = 1,19 - 1,24 (D = 1,213), p = 2,90gr/cm3, K = 2,19 dan A t = 11 tahun.
Perbandingan nilai D, p dan K blok-blok segmen tersebut menghasilkan
pola perulangan gempa At sesuai persamaan empirik dan analitik yang
telah dirumuskan diatas. Dari pola fraktal kegempaan SSS tersebut
teramati juga adanya urutan kegempaan yang teratur, yakni satu urutan
selalu dimulai dengan 4-5 gempa pada Blok I diikuti 1-2 gempa pada Blok
II dan beda waktu antara gempa terakhir pada Blok I dengan gempa pertama
pada Blok II relatif sangat singkat (harian-bulanan). Dengan simulasi
metoda 2 blok peluncur tidak simetrik diketahui bahwa urutan kegempaan
seperti itu terjadi akibat perbandingan gaya gesek maksimum / statik
(Fs) kedua blok tersebut adalah Fs,/Fs2 = 1,05. Harga FsI/FS2 tersebut
hampir sama dengan nilai perbandingan nilai D maksimum dua blok segmen
SSS (D2/D1=1,07) bersangkutan dan mendukung kebenaran hubungan empirik
µ D. Pola fraktal tersebut memungkinkan pendugaan jangka panjang
(jangka waktu tahunan) kemungkinan terjadinya gempa besar disepanjang
segmen Sesar Sumatra. Hal itu telah dibuktikan dengan pendugaan yang
baik bagi terjadinya gempa Kerinci 7 Oktober 1995 dan gempa Toni 10
Oktober 1996, jauh sebelum gempa tersebut terjadi. Jadi, sumbangan utama
metoda fraktal dalam analisis mekanika kegempaan sistem sesar adalah
kemampuan metoda ini untuk menguantifikasikan derajat ketidakteraturan
geometri bidang sesar yang sangat mengontrol harga dan mekanika
kegempaan sesar tersebut. Akibat dari kemampuan itu, pola kegempaan yang
mula-mula terlihat tidak teratur dan tidak dapat diduga, berubah
menjadi sesuatu yang bersifat teratur dan memungkinkan. untuk diduga.
Hasil penelitian ini berguna bagi pemahaman yang sempurna mengenai
mekanika kegempaan SSS dan penerapan metoda fraktal untuk analisa
kegempaan sistem sesar. Hasil penelitian juga berguna bagi usaha
mitigasi bencana gempa disepanjang SSS dan dapat digunakan sebagai acuan
bagi pengembangan wilayah disekitar SSS. Meskipun demikian, masih
diperlukan studi lebih lanjut, baik di SSS maupun di sistem sesar
lainnya, untuk menguji apakah perilaku fraktal kegempaan SSS tersebut
konsisten dan berlaku secara umum di sistem-sistem sesar lainnya atau
hanya berlaku secara lokal saja di SSS.
Selengkapnya Download Link Di Bawah Ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar